Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

"Writing is not my hobby,it's a part of my life"

HomeAhlan WasahlanMay 30, 2008
wElcome in my Blog! i invite u to m'beri kritik n saran ato comment. mEt bergabung

Blog EntryApr 29, '09 12:51 AM
for everyone

Oleh: Iqro’ Alfirdaus, Pemerhati tradisi lokal Nusantara. Tinggal di Yogyakarta


Ekstremitas tak selamanya adu punggung dengan agama. Buktinya, tradisi ngurek atau ngunying di Bali merupakan wujud bakti atau keikhlasan seorang ngaturang ayah kepada Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Mahakuasa).

Tradisi ngurek merupakan atraksi menusuk diri dengan keris khusus ketika para pelaku berada dalam keadaan tidak sadar (kerauhan). Kerauhan merupakan sebuah keunikan sekaligus misteri yang sulit dijelaskan, namun amat biasa bagi orang Bali. Biasanya kerauhan ditandai dengan keadaan pengurek menggigil, gemetar, mengerang dan memekik tak sadarkan diri.

Dalam keadaan seperti itu, senjata apa pun sepertinya tidak mempan melukai tubuh. Umumnya senjata keris ditancapkan pada bagian tubuh di atas pusar seperti dada, dahi, bahu, leher, alis dan mata.

Ngurek memiliki gaya masing-masing. Ada yang berdiri sembari menancapkan keris ke bagian tubuh, seperti dada atau mata. Ada pula yang bersandar di pelinggih, kemudian menancapkan keris ke bagian tubuhnya.

Tradisi ngurek biasa dilakukan di luar kompleks pura utama. Sebelum ngurek dilakukan, biasanya Barong dan Rangda serta para pepatih yang kerauhan (trance) itu keluar dari dalam kompleks pura utama dan mengelilingi wantilan pura sebanyak tiga kali. Saat melakukan hal itulah, para pepatih mengalami titik kulminasi spiritual tertinggi dan kerispun langsung ditancapkan ke bagian tubuhnya tanpa terluka sedikitpun. Setelah upacara selesai, para pelaku ngurek kembali ke kompleks pura utama. 

Menurut sejarahnya, tradisi ngurek bersumber dari ritus keagamaan di Bali. Tradisi ini biasanya dilakukan saat upacara dewa Yadnya yang disebut ngeramen di pura, sanggah (merajan) dan paibon.

Prosesi sakralnya berbeda-beda antara daerah satu dengan lainnya. Misalnya di Pura Pengerebongan, Kesiman. Tradisi ini menggunakan keris dan orang yang melakukannya tidak dibedakan statusnya. Bisa pemangku, penyungsung pura, anggota krama desa, tokoh masyarakat, orang dewasa, anak-anak, laki-laki maupun perempuan.

Sedangakan di daerah lain, tradisi ini disakralkan, yakni memiliki aturan tertentu dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melakukannya, seperti pemangku dan tokoh masyarakat. Biasanya, pertama kali yang melakukan aksi ngurek adalah pemangku, kemudian dilanjutkan dengan yang lain.

Gending gamelan dalam tahapan upacara itu pun berbeda-beda. Dalam tahapan nyaniyan misalnya, gending tetabuhan yang dimainkan adalah leluwangan ancag-ancagan yang terdiri dari gong, kempur, tiga buah cengceng kepyak, kendang cetugan, dua buah jublag, kenyong, kajar, dua buah pemade dan dua buah kantil.

Khusus dalam kegiatan ngurek, gending yang dilantunkan adalah gamelan kale. Namun secara makro, gending gamelan yang dimainkan dalam upacara dewa Yadnya di daerah Kesiman adalah tabuh leluangan,

Tradisi ngurek juga terdapat dalam prosesi ngerebong di Pura Petilan Kesiman sebagai bentuk sinergitas kebudayaan yang integral. Dalam upacara yang berlangsung enam bulan sekali tersebut, tradisi ngurek dilakukan dengan jumlah pelaku ngurek yang banyak.

Bedanya, dalam upacara dewa Yadnya ngeramen, ngurek dilakukan oleh para pemangku dan penyungsung pura. Sedangkan dalam upacara ngerebong, ngurek dilakukan oleh sembarang orang. Siapa saja bisa ngurek asal mereka memang benar-benar kerauhan (trance).

Trance bisa diupayakan, namun sulit diduga mengenai waktu maupun orang yang mungkin akan kerauhan. Orang yang disiapkan untuk kerauhan dalam sebuah prosesi ritual ngurek bisa jadi tidak mengalami apa-apa. Sebaliknya, justru para partisipan lainnya yang mengalami trance.

Di Pura Kesiman, Denpasar, kerauhan bisa terjadi pada siapa saja yang terlibat dalam ritual itu. Seorang remaja yang membawa umbul-umbul bisa seketika liar menghunus keris dan ngurek (menusuk) tubuhnya sendiri. Atau seorang dara ayu yang tiba-tiba menyeringai garang meronta-ronta meminta keris untuk ngurek.

Misteri kerauhan dalam ngurek biasanya terjadi atau diupayakan dengan prosesi ritual yang serius. Untuk mencapai klimaks kerauhan mereka harus melakukan rentetan ritus. Tahap-tahap itu secara garis besar dapat dibagi tiga yakni nusdus, masolah, dan ngaluwur. Nusdus adalah merangsang para pelaku ngurek dengan asap yang beraroma harum menyengat agar segera kerauhan. Masolah adalah tahap menari dengan iringan lagu-lagu dan koor kecak atau bunyi-bunyian gamelan. Ngaluwur adalah mengembalikan pelaku ngurek pada jati dirinya.




Photo Albummamaca maduraApr 13, '09 12:54 AM
for everyone


Blog EntrySep 11, '08 11:15 PM
for everyone
Ideologi Lokalitas Tarekat Wahidiyah

Judul buku     : Tasawuf Kultural: Fenomena Shalawat Wahidiyah
Penulis          : Sokhi Huda
Tebal             : xxviii + 372 halaman
Cetakan         : I (Pertama), Juli 2008
Penerbit         : LKiS Yogyakarta
Harga buku    : Rp 42.500,-

Presensi        : Iqro' eL. Firdaus*

"Masuki, selami, alami dan pahami". Begitulah kira-kira nalar ketarekatan sebagai metode untuk mengetahui dimensi esoterik yang tidak mudah didekati oleh "orang luar". Tarekat sebagai dimensi esoterik ajaran Islam mempunyai segi-segi eksklusif menyangkut hal-hal yang bersifat rahasia (sirr). Bobot kerohaniannya yang amat dalam tentu tidak semuanya dapat dimengerti oleh orang yang hanya menekuni dimensi eksoterik ajaran Islam. Maka tidak jarang terjadi salah pengertian dari kalangan awam yang melihatnya.

Di dunia Islam dikenal beberapa aliran tarekat besar, seperti Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syathariyah, Sammaniyah, Khalwatiyah, Tijaniyah, Idrisiyah dan Rifa'iyah yang merupakan anggitan dari para ulama Timur Tengah. Aliran-aliran tarekat tersebut terbanyak tumbuh berasal dari daerah Turki. Sedangkan tarekat yang merupakan produk asli Indonesia adalah Shiddiqiyah dan Wahidiyah yang cukup populer dan sekaligus kontroversial. Kedua tarekat itu muncul dan berkembang di Kediri, Jawa Timur.

Aliran Wahidiyah yang didirikan oleh KH. Abdoel Madjid Ma'roef pada 1963 itu ternyata berkembang sebagai sebuah nilai spiritual ditengah-tengah masyarakat, bahkan tidak hanya didalam negeri, tetapi juga diluar negeri. Eksistensi Wahidiyah merupakan fenomena kultural tasawuf dalam wacana realitas sosial, keagamaan dan ilmiah. Kehadirannya dapat dibilang sebagai kontrol dan reformasi zaman umat manusia.

Buku yang ditulis oleh Sokhi Huda ini menjelaskan bahwa sistem ajaran Wahidiyah menyediakan perangkat spiritual yang disebut Shalawat Wahidiyah. Shalawat ini (juga dengan ajarannya) merupakan produk atau susunan KH. Abdoel Madjid Ma'roef. Dia dikenal sebagai muallif shalawat Wahidiyah, bukan sebagai mursyid (guru tarekat), sebab dalam Wahidiyah tidak ada istilah mursyid seperti dalam tarekat-tarekat pada umumnya atau dalam semua tarekat yang ada. Maka dapat dipahami bahwa dalam Wahidiyah tidak ada baiat (janji) murid dihadapan mursyid. Pola relasi yang ada dalam Wahidiyah adalah relasi muallif dan pengamal. Semua pengamal adalah murid langsung muallif. Pola relasi ini tidak tersusun atas urutan pendiri, mursyid, sampai salik (murid) yang semakin lama semakin panjang jalur silsilahnya karena semakin panjangnya rentang masa hidup antara murid dan pendiri yang diantara keduaya terdapat mursyid-mursyid dalam Wahidiyah, pola relasi tersebut tetap bertahan, tidak semakin panjang, meskipun rentang masa hidup antara keduanya semakin panjang.

Idealisme tasawuf yang dibawa oleh Wahidiyah diterjemahkan oleh muallif kedalam bentuk amalan ritual yang praktis untuk disajikan kepada masyarakat luas. Dengan kata lain, Wahidiyah dapat diakses kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja, tanpa prosedur kesilsilahan. Ini merupakan terobosan baru dalam dunia tasawuf dan tarekat, dimana pada umumnya semua aliran tasawuf dan tarekat menyajikan sistem ajaran dan sistem amalan ritual yang ketat dan prosedural.

Sebagai fenomena kultural, Wahidiyah ternyata berkembang pesat ditengah-tengah masyarakat. Bahkan dengan misi inklusivisme global (jami' al-'alamin), ia berkembang hingga ke manca negara. Barangkali karena sistemnya yang sederhanan dan praktis itulah sebagian masyarakat merasakan adanya daya tarik (attraction) terhadap Wahidiyah.

Secara historis, aliran ini mengalami dialektika yang monumental. Ini ditandai oleh sejumlah respon, baik respon positif maupun negatif dan kritik-kritik ideologis dari para pemuka berbagai aliran tasawuf yang ada di Indonesia maupun dari kalangan sesepuh NU. Sebagaimana diketahui, NU menjadi lembaga yang berhak menentukan status "mu'tabarah" (sah) atau "ghair mu'tabarah" (tidak sah) bagi aliran tasawuf yang ada di Indonesia. Akan tetapi, karena prosedur pengamalan shalawat Wahidiyah yang praktis, tanpa proses baiat, banyak tokoh sesepuh dan strategis NU yang menjadi pengamal Wahidiyah.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa daya ketertarikan terhadap Wahidiyah diperkuat dengan akuitas pernyataan bahwa shalawat Wahidiyah merupakan interpretasi terhadap Islam yang dilakukan secara genius oleh pendirinya dan ditransformasikan secara terus menerus sehingga menjadi habitualisasi dalam kehidupan sehari-hari. Ia merupakan tasawuf lokal yang menjadi ajang bagi para penganutnya untuk memenuhi gelegak keilahian dan menjadi wadah bagi pemenuhan kebutuhan spiritual yang tidak ada habis-habisnya. Ia menjadi medium untuk mengekspresikan gelegak ketuhanan dan kulminasi pengalaman keilahian yang tidak kunjung henti. Ritual di dalamnya merupakan proses untuk untuk menemukan Tuhan didalam kehidupan. Jika tidak ingin terlambat didalam proses pencaraian kehidupan duniawi maka ia bisa menjadi jembatan untuk sampai pada maqam keilahian tersebut. Samudra luas kehidupan yang seharusnya diisi dengan sifat dan tindakan keilahian tersebut terkadang tereduksi oleh keinginan duniawi sehingga menghalangi seseorang untuk menemui Tuhannya. Itulah salah satu motto Wahidiyah, Fafirru ila Allah.

Dinamika historis Wahidiyah mengalami perkembangan yang signifikan pada saat sasaran jami' al-'alamin dan misi inklusivisme globalnya sedikit demi sedikit merambah ke berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara (Timor Leste, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Australia, Hongkong, Jepang, Arab Saudi dan Amerika Serikat). Misi inklusivisme global ini bukanlah sasaran program Wahidiyah sebagai sebuah aliran tasawuf, melainkan merupakan substansi ajaran dan sifat keterbukaan dalam proses legalisasi pengamalnya. Muaranya adalah, dalam aliran ini tidak ada batas sebagaimana aliran-aliran tarekat umumnya; yang ada adalah model gethok tular yang dalam istilah komunikasi disebut multi step flow coomunication, yaitu model penyebaran berantai; setiap pengamal Wahidiyah diberi hak untuk menyebarkan substansi, termasuk rangkaian zikir atau sistem amalan (awrad) dan ajaran shalawat tersebut kepada orang lain tanpa proses baiat. Oleh karena itu, banyak tokoh sepuh NU, penganut aliran-aliran Islam, pejabat negara, bahkan kalangan bromocorah menjadi pengamal shalawat ini.

Buku ini memberikan sumbangsi dialogis dan wawasan ilmiah yang analitis, deskriptif dan komprehensif mengenai fenomena Wahidiyah sebagai sebuah aliran tasawuf lokal. Ia hadir untuk mengisi kelangkaan literatur tentang tarekat atau tasawuf yang bercorak lokal. Toh, realitasnya memang tidak banyak karya tulis tentang tarekat lokal dalam khazanah perbukuan Indonesia. Tulisan ini merupakan karya ilmiah akademis yang memprioritaskan dimensi pemahaman dan bukan menggurui, atau bahkan mencurigai. Maka buku ini sangat bermanfaat bagi pengamal shalawat Wahidiyah, orang yang tertarik dengan dunia tasawuf dan juga kalangan akademisi yang tertarik dengan fenomena tasawuf seperti ajaran, ritual dan dimensi ketasawufannya sebagai pattern for behavior untuk dipahami dan dipraktikkan atau dialami oleh pengamalnya.

Blog EntrySep 1, '08 2:51 AM
for everyone

Pendidikan adalah salah satu pilar kehidupan bangsa. Masa depan suatu bangsa bisa diketahui melalui sejauh mana komitmen masyarakat, bangsa atau pun negara dalam menyelenggarakan Pendidikan Nasional.
Dalam Pembukaan (Preambule) Undang-Undang Dasar 45 menyatakan"… Kemudian dari pada itu, untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia, yang melindungi segenap bangsa, seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…" Pendidikan menjadi salah satu dari tujuan bangsa ini.
Sementara dalam Undang-Undang Dasar 45 pasal 31 ayat 4 memperjelas bahwa anggaran penyelenggaraan Pendidikan Nasional minimal sebesar 20 % diambil dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Anggaran pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Secara ideal, penyelenggaraan Pendidikan Nasional seperti dilukiskan dalam konstitusi di atas. Namun dalam realitasnya justru mengatakan lain. Pendidikan Nasional semakin menyimpan banyak persoalan dan sampai sekarang belum terselesaikan. Banyak kasus pendidikan yang sempat menjadi keprihatinan kita bersama, seperti; tragedi pendidikan di kabupeten Kampar (Riau), kasus penggusuran SLTP 56 Melawai (Jakarta) dan kasus penggusuran SDN Ambarukmo (Yogyakarta).
Kasus-kasus tersebut secara tidak langsung menjadi indikasi bagi keberlangsungan Pendidikan Nasional yang masih terseok-seok. Proses penyelenggaraan Pendidikan Nasional masih sering terbentur dengan berbagai kendala, baik dari segi kebijakan (policy), sistem sosial dan kesadaran kita sendiri.

Tiga kasus di atas adalah yang sempat terdeteksi oleh media massa. Masih terbuka kemungkinan besar kasus-kasus serupa yang tidak terdeteksi oleh media massa. Oleh karena itu, sudah sewajarnya kita sebagai bangsa Indonesia yang konsisten dengan Pendidikan Nasional menyikapi berbagai kasus yang ada secara bijak sana.
Jika menganalisa lebih jauh tentang kasus di kabupaten Kampar tersebut, kita membutuhkan suatu paradigma yang bisa membedah dan memberikan penjelasan secara berarti dari kasus di atas. Secara tidak langsung, Pendapatan Asli Daerah (PAD) cukup berlebih jika hanya untuk menyelenggarakan pendidikan yang bermutu. Namun karena komitmen pemerintah yang kurang memperhatikan persoalan ini, sehingga proses pendidikan di kabupaten Kampar sangat terbengkalai.
Membaca kondisi batin masyarakat Kampar pasca tregedi tersebut mengindikasikan adanya "budaya bisu" (submerged of culture silent). Sebuah realitas budaya massa yang mencerminkan ketakutan atau ketidakmampuan masyarakat untuk meluapkan aspirasi mereka. "Budaya Bisu" sebagaimana Paulo Freire menyebutnya, adalah suatu indikasi dari proses penindasan yang sifatnya tidak manusiawi (de-humanisasi), karena memang tidak senafas dengan fitrah manusia (Mansour Faqih, Roem Topatimasang, Toto Rahardjo, 2000).

Melalui analisis di atas kita bisa mengambil kesimpulan secara sederhana bahwa terdapat beberapa pokok persoalan dalam pendidikan kita, yaitu; pertama, problem kebijakan pemerintah yang tidak memiliki komitmen dalam menyelenggarakan Pendidikan Nasional. Uraian di atas menjadi argumentasi logis untuk mengatakan bahwa pemerintah tidak memiliki komitmen yang jelas dalam menyelenggarakan Pendidikan Nasional.
Sementara itu, ketika kita merujuk pada undang-undang dasar 45 pasal 31 ayat 1 yang menyatakan bahwa anggaran penyelengaraan Pendidikan Nasional sekurang-kurangnya 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun dalam kenyataannya tidak menunjukkan suatu relevansi yang nyata. Bahkan riil, anggaran pendidikan hanya berkisar 10% dari APBN, dan itu pun hanya untuk membiayai anggaran rutin seperti penyediaan alat-alat belajar, gaji guru dan karyawan dan sebagainya.
Kedua; Problem visi Pendidikan Nasional yang masih belum bisa berpihak pada rakyat jelata (grass root). Dari kasus-kasus di atas, keluar sebagai pelaku pemenangnya adalah kalangan the have atau mereka yang memiliki uang saja. Kebijakan pemerintah dan visi Pendidikan Nasional kurang bisa menyentuh kepentingan kalangan grass root. Oleh karena itulah, setiap kasus yang terjadi selalu meletakkan posisi rakyat jelata sebagai yang kalah.
Ketiga; Problem kesadaran masyarakat Indonesia yang belum mencapai tahapan "kesadaran kritis" (critical consciousness). Setiap kasus yang terjadi selalu memposisikan masyarakat bawah sebagai yang tertindas, namun mereka tidak kuasa melawan penindasan itu. Dalam istilahnya Paulo Freire, mereka telah tenggelam dalam "budaya bisu." Kondisi mereka selalu tertekan, namun tidak kuasa untuk meluapkan seluruh aspirasi karena otoritas kekuasaan pemerintah yang sangat dominan.
Ketiga akar persoalan di atas menjadi problem serius dalam penyelenggaraan pendidikan bermutu di Indonesia. Penyelenggaraan Pendidikan Nasional tidak akan bisa berjalan secara ideal selagi ketiga pokok persoalan di atas belum terpikirkan.
*) Penulis adalah Mu'arif, mantan direktur Forum Studi Freire Yogyakarta.


Blog EntryMay 31, '08 12:04 AM
for everyone

Menyingkap Mistik Soeharto

 

Judul Buku       : Dunia Spiritual Soeharto,

                          menelusuri laku ritual, tempat-tempat dan guru spiritualnya

Penulis              : Arwan Tuti Artha                                                                               

Tebal                : 130 x 200 mm; 197 hlm.

Penerbit           : Galangpress, Yogyakarta

Cetakan           : I, 2007

Peresensi        : Iqro’ L. Firdaus*

 

Perjalanan panjang rezim Soeharto berkuasa selama 32 tahun memberikan kesan bahwa dialah satu-satunya presiden yang paling lama duduk di  kursi birokrasi.  Rezim otoritarianisme Orde Baru yang menerapkan pemerintahan secara sentralistik, represif yang ditopang dengan kekuatan militer, sehingga ia piawai menakut-nakuti masyarakat kecil. Bahkan dari beberapa peristiwa yang terjadi disebabkan oleh meliterisasi: siapa yang melawan, nyawanya harus melayang, sebagaimana isu Petrus pada tahun 1980-an. Tokoh-tokoh seperti Ahmad Wahib, Widji Tukhul, Ragil Pragolapati harus merelakan nyawanya demi kepuasan presiden kedua itu.

Sebenarnya, Soeharto tak lebih dari manusia biasa yang disinyalir bukan berasal dari keluarga kaya, pendidikannya pun rendah dan dia anak petani dari desa Kemusuk, kecamatan Godean, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Soeharto juga tidak memperoleh pendidikan kepemimpinan, tetapi ia pintar memanfaatkan keadaan guna mempercepat mobilitas sosialnya.

Tanpa harus membakar kemenyan atau dupa tidak terlalu sulit bagi Soeharto untuk mengubah Indonesia sesuai dengan apa yang dikehendakinya, karena kekuasaan yang digenggamnya memang sangat menakjubkan. Undang-Undang pun bisa direkayasa untuk kepentingan kekuasaan dirinya. Keberanian melakukan apa yang sesuai dengan keinginannya tidak mungkin terjadi kalau kekuasaan tak digenggamnya. Kekuasaan yang saat itu digenggam menjadi mutlak, seakan-akan seoarang Rasul yang menerima wahyu dari Tuhan. Sehingga semua orang harus mengangguk sesuai apa yang diperintahnya.

Sebagai orang Jawa, ia punya komitmen untuk menjaga harmonisasi, hidupnya serba perhitungan. Menurut Geertz, kegemaran orang Jawa pada petung sangat terpelihara dan mereka percaya angka-angka itu berasal dari leluhurnya yang sangat keramat.(hal.37). Diakui atau tidak Soeharto dalam memegang tongkat kekuasaannya sampai dia mengundurkan diri pada 21 mei 1998, selama kurang lebih 32 tahun itu ia mempraktikkan perhitungan-perhitungan dengan semacam memilih kehidupan harmoni. Sebagaimana juga pendapat Robert Edward Elson, penulis buku Suharto, A Political Biography (2001), bahwa Soeharto selalu berhati-hati dan waspada. Ia hanya tertarik pada masa depannya sendiri. Ia akan lebih waspada lagi saat akan bergabung dengan kelompok tertentu. Ia harus yakin bahwa kelompok itu akan menang. Dia sangat pragmatis(Tempo, 17 Maret 2202).

Dokumentasi foto-foto tempat Pak Harto melakukan tirakat dan rumah guru spiritualnya dapat kita temui. Dalam buku ini dijelaskan bahwa Soeharto adalah pribadi yang banyak dihubungkan dengan wilayah kejawen. Soeharto sangat mempercayai klenik kebatinan Jawa pedalaman yang kental, sebuah klenik yang hanya mengakui Islam dalam bentuk yang lebih estoteris dan hukum agama hanya memiliki kekuatan kecil. Klenik dalam pengertian yang luas tidak harus selalu bersifat negatif. Klenik membuat orang selalu berhati-hati, waspada dan segala sesuatunya dihitung baik buruknya, dan akan berakhir dengan baik pula.  Dalam dunia inilah Soeharto menemukan kedamaian batin yang bisa menjelaskan gaya kepemimpinannya yang berkepala dingin selama bertahun-tahun.(hal.14)

Buku yang ditulis oleh Arwan Tuti Artha menjelaskan bahwa sebelum dan selama Soeharto berkuasa ia memiliki guru spiritual, dan tak jarang ia berziarah ke tempat-tempat keramat semisal Gunung Selok dan Gunung Srandil di kawasan Cilacap. Dari kehidupan spiritualnya, Soeharto menempuh perjalanan panjang untuk menjadi orang nomor satu di Indonesia dari zaman penjajahan masa kolonial Belanda, zaman Jepang kemudian masa kemerdekaan. Ia juga nglakoni seperti puasa, baginya puasa bukanlah hal yang baru dan tidak meninggalkan warisan leluhur seperti mengadakan upacara selamatan untuk keluarganya.. Kalau sudah dipahami oleh masyarakat bahwa Soeharto melakukan hal seperti itu,siapa yang berani melawan mereka?sehingga tak heran beberapa kali Soeharto mau dijerat hukum meleset bagai belut, sampai akhirnya akhir-akhir ini Soeharto menjadi polemik. Ditengah sakitnya, ada yang berpendapat Soeharto bersalah(tersangka) dalam beberapa kasus besar dan harus  tetap diproses hukum. Sebab dalam pembukaan UUD, Indonesia adalah negara hukum dan hukum harus tetap ditegakkan. Ada juga yang berpendapat bahwa Soeharto dimaafkan sebab banyak budi dan perjuangan Soeharto dalam mengembangkan Indonesia. Banyak perubahan-perubahan disebabkan perjuangannya selama memegang tongkat kekuasaan. 

Pada rezim Orde Baru yang dibawanya ada dua pilar utama yang menopang kesuksesan Soeharto.Pertama, pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi dengan mengerahkan konsep-konsep liberalisasi ekonomi seperti pembukaan diri terhadap masuknya investasi asing dan utang luar negeri. Kedua, stabilitas politik dianggap menjadi prasyarat bagi tercapainya tujuan yang pertama itu. Pilar-pilar yang dibangun Orde Baru itu memang membuktikan kondisi ekonominya lebih baik dari sebelumnya.

Orang boleh mengagumi apa yang terjadi selama Orde Baru berlangsung bersama para penguasa tunggalnya, yakni Soeharto. Kekuasaan yang amat luar biasa dengan militer sebagai kekuatan fisiknya itu nyaris menyamakan Soeharto dengan seorang raja yang sakti mandraguna. Apalgi dalam perkembangannya yang sangat sentralistik, semua kekuasaan bermuara pada diri Soeharto. Akhirnya buku ini patut untuk dinikmati khususnya pemerhati politik, mereka akademisi politik, para birokrat dan masyarakat pada umumnya sebagai bentuk transfering pengetahun dunia Soeharto dari pintu klenik (spiritualitas) sebab pada umumnya orang memasuki sosok Soeharto dari pintu politik.

 

 

 

 


Blog EntryMay 30, '08 11:53 PM
for everyone

MEWUJUDKAN PENDIDIKAN ISLAM TRANSFORMATIF

 

Judul Buku : Pendidikan Islam Transformatif

Penulis             : Dr. Mahmud Arif

Penerbit : LKiS, Yogyakarta

Cetakan : I, Februari 2008

Tebal               : 309 Halaman

Peresensi : Iqro' Alfirdaus

 

Di akui atau tidak, pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi dalam kehidupan manusia baik sebagai individu, kelompok maupun sosial-kenegaraan. Sebab, tidak meungkin suatu bangsa akan cerdas dan pintar tanpa pendidikan. Dan tidak mungkin pendidikan berjalan tanpa guru. Keduanya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Guru adalah orang yang patut digugu dan ditiru, di asamping itu guru sering disebut pahlaan tanpa jasa. Itulah pandangan umum tentang pendidikan dan proses belajar mengajar khususnya dalam suatu bangsa.

Demikian juga tentang pendidikan islam yang akhir-akhir ini menjadi suatu kebutuhan paling sentral khususnya umat muslim dan masyarakat secara umum. Karena, mayoritas masyarakat indonesia adalah muslim maka hal ini menuntut mereka paling tidak bisa dan mengetahui serta paham pendidikan islam pada khususnya. Pendidikan islam adalah sebagai wadah dengan aneka warna untuk membentuk kehidupan masyarakat lebih baik dan bermoral secara islami.

Pada awal perkembangan pendidikan islam pada umumnya berlangsung secara dogmatis. Mereka menganggap bahwa semuanya harus sesuai dan mengarah terhadap kitab-kitab klasik yang dikarang oleh ulama salaf. Sehingga ketika tidak sesuai maka mereka cenderung melarang dan bahkan mengharamkan. Perbedaan pendapat bermunculan dan seringkali saling mangkafirkan satu sama lain. Dengan alasan itulah, kebanyakan masyarakat menganggap bahwa pendidikan islam terdahulu pada khususnya telah final, ideal, dan tak perlu dikaji ulang. Sehingga semuanya harus sesuai dengan hasil ijtihad para ulama klasik. Oleh sebab itu, hal ini hanya akan menjadikan pendidikan islam itu sendiri sulit berkembang dan bahkan akan mengalami ke-mandeg-an. Yang kemudian cenderung menutup diri dan bersifat tertutup (ekslusif). Sehingga yang terjadi di sini hanyalah pengulangan-pengulangan yang bersifat materi.

Akan tetapi, permasalahannya sekarang apakah pendidikan islam itu akan mampu berkutat dan berdialog dengan sekian banyak perubahan dan persoalan masyarakat secara umum, ketika menutup diri dan tidak mau menerima masukan dari luar? Bukankah sebagaimana yang telah kita ketahui bersama bahwa pada hakekatnya pendidikan islam mangandung prinsip “Al-muhafadzatu ‘alal qodimish shaalih ma’al akhdzi wal ijadi bil jadiidil ashlah“ (mempertahankan budaya lama yang masih baik dan relefan disertai dengan mengambil budaya baru yang lebih baik dan relefan). Di aman, di sini agar tetap sesuai dengan konteks yang berkembang di tengah mansyarakat. Dengan demikian, dari prinsip itulah bukankah pendidikan islam itu harus terbuka lebar dan membuka jalan demi tercapainya pendidikan islam yang transpformatif. Dalam artian bahwa pendidikan islam itu harus berifat terbuka (inklusif).

Dengan demikian, kalau pendidikan islam berifat terbuka (inklusif) maka hal ini akan menambah perkembangan dalam pendidikan islam (ilamic studies) itu sendiri. Oleh karena itu, diperlukan kerangka analisis epistimologi yang khas dalam pendidikan islam khususnya. Ada tiga kerangka analisis epistimologi dalam pendidikan islam. Pertama, Bayani. Sumber terpokok dalam tradisi bayani ini adalah nas, teks, dan wahyu. Dalam hal ini peran akal untuk menafsirkan hal-hal tang terkait dengan persoalan keberagamaan dan pendidikn islam, sangatlah terbatas. Karena semuanaya harus sesuai dan berpdoman terhadap teks dan wahyu. Sehingga akan membentuk dan menjadikan pendidikan islam sulit menerima realitas sosial yang ada.

Kedua, Irfani. Kalau pada tradisi berfikir (keilmuan) bayani bersumber pada teks dan wahyu, namun pada tradisi irfani bersumber pada intuisi atau pengalaman langsung (direct eksperience). Akan tetapi tradisi pemikiran dan keilmuan irfani ini juga akan mengalami jalan kebuntuan. Sebab di sini hanya mengguanakan sumber pengalaman tanpa dibarengi dan disesuaikan dengan wahyu dan teks keagamaan. Ketiga, Burhani. Dalam tradisi keilmuan burhani ini adalah bersumber pada realitas (al-Waqi’), baik alam, sosial, dan humanitas. Di mana, dalam tradsisi burhani ini semuanya ditekankan pada korespondensi, yakni kesesuaian antara rumus-rumus yang diciptakan oleh akal manusia dengan hukum-hukum alam. Selain korespondensi, juga korelasi yakni keruntutan dan keberaturan berfikir yang logis. Dan upaya terus menerus dalam rangka menemukan dan memperbaiki serta menyempurnakan tradisi berfikir pendidikan islam.

Namun, dalam realitasnya sekarang bahwa pendidikan islam khususnya, meskipun telah menggunakan tradisi keilmuan baik bayani, irfani, dan burhani masih cenderung berjalan pada porosnya masing-masing. Sehingga hal ini malah semakin membuat dan menambah keterpurukan dan ke-mandeg-an dalam pendidikan islam. Ini dikarenakan oleh tidak adanya dialog dan tutur sapa antara ketiga dimensi keilmuan tersebut.

Oleh karena itu, buku yang ditulis Dr. Mahmud Arif setebal 309 halaman ini memberikan suatu jalan dan terobosan baru dalam mewujudkan pendidikan islam transformatif. Yakni, dengan mengkomparasikan dan mengkolaborasikan antara ketiga dimensi kelimuan tersebut. Antara tradisi keilmuan bayani yang bersumber pada teks dan wahyu, dan irfani bersumber pada intusisi dan pengalaman, serta burhani yang bersumber pada realitas (al-Waqi’) di tengah masyarakat, maka akan terbentuk dan terwujud serta tercapai suatu pendidikan islam yang transformatif.

 

 


Blog EntryMay 30, '08 11:50 PM
for everyone

 

MENGUNGKAP POLITIK KEBUDAYAAN KAUM BERSARUNG

 

Judul Buku     : Lesbumi: Strategi Politik Kebudayaan

Penulis            : Choirotun Chisaan

Penerbit          : LKiS

Cetakan          : 1, Maret 2008

Tebal               : V+247  Halaman

Peresensi        : Iqro' Alfirdaus

 

Pada masa “Demokrasi Terpimpin” lembaga seni budaya banyak yang berafiliasi dengan partai. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa seni budaya telah dimanfaatkan secara ekstensif sebagai alat tindakan politik. Hampir dapat dipastikan partai politik yang berbasis massa besar hingga yang terkecil memiliki lembaga seni budayanya masing-masing. Yang pada pempublikasiannya, akhirnya memicu timbulnya polemik dalam domain kebudayaan. Polemik tersebut berawal dari persoalan ‘Timur dan Barat’ (1930-an) sebelum terbentuknya lembaga kesenian dan kebudayaan,  yang mengkerucut pada persoalan ‘Kebudayaan Nasional dan Kebudayaan Dunia’ (1950-an), dan ‘Politik Aliran Kebudayaan’ (1960-an) setelah lembaga kesenian dan kebudayaan terbentuk.

Buku yang berjudul Lesbumi: Strategi Politik Kebudayaan yang di tulis oleh Choirotun Chisaan ini hendak mengungkap sisi lain NU  yang selama ini diidentikkan dengan organisasi kaum bersarung sebagai partai politik Islam dalam pergaulannya, yang juga mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan di Indonesia demi menjawab segala tantangan modernitas yang terjadi pada saat itu dengan lembaga keseniannya Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia).

Indonesia yang berada dalam proses pembentukan negara-bangsa menghadapi banyak tantangan baik dari dalam maupun luar negeri, yang memerlukan pembenahan dalam berbagai sektor kehidupan. NU mempunyai badan otonom yang mencerminkan perhatiannya pada masalah pendidikan, sosial, dakwah, perempuan, pemuda, dan buruh. Dalam perkembangan selanjutnya, bagian-bagian dan badan-badan yang otonom yang ada di tubuh NU semakin bertambah seiring meluasnya perhatian pada masalah lain. Termasuk Lesbumi yang dibentuk pada tahun 1962 yang berkonsentrasi pada seni budaya.

Ada dua faktor yang mendorong lahirnya Lesbumi. Pertama adalah faktor ekstern, yang meliputi; dikeluarkannya Manifesto Politik pada tahun 1959, pengarusutamaan Nasakom dalam tata kehidupan sosio-budaya dan politik Indonesia pada tahun 1960-an, dan perkembangan Lekra (1950), organisasi kebudayaan yang sejak akhir tahun 1950-an dan seterusnya semakin menampakkan kedekatan hubungan dengan PKI baik secara kelembagaan maupun ideologis.  Kedua, adalah faktor intern yakni, kebutuhan pendampingan terhadap kelompok-kelompok seni budaya di lingkungan nahdiyyin, dan kebutuhan akan modernisasi seni budaya.

Lesbumi adalah merupakan reaksi terhadap perkembangan Lekra, karena kemunculannya baru pada tahun 1962, dua belas tahun setelah kelahiran Lekra. Akan tetapi, kelahiran Lesbumi dalam konteks politik kebudayaan merupakan satu kemestian, satu conditio sine qua non atas jalannya revolusi Indonesia yang menganut gagasan Nasakom Soekarno. Kemestian inilah yang menegaskan kehadiran Lesbumi bukan untuk mendirikan organisasi kebudayaan. Kehadiran Lesbumi juga merupakan reaksi terhadap berbagai macam tantangan yang datang dari berbagai arah yang mengitari kaum muslimin.

Lesbumi membawa warna yang berbeda dari Lekra. Lesbumi membawa genre “religius”. Ia merupakan manifestasi dari cita-cita dan gagasan kesatuan Nasakom Soekarno yang meniscayakan terhadap agama sebagai unsur mutlak dalam nation and character building di bidang kebudayaan. Pendefinisian ini sejalan dengan tujuan revolusi Indonesia yang menginginkan tercapainya masyarakat yang adil makmur lahir batin yang diridlai Allah. Diyakini bahwa jalannya revolusi Indonesia, sebagaimana dinyatakan dalam Manifesto Politik, menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa di dalam kesatuan Pancasila sebagai landasan ideal.

Sehubungan dengan itu, penegasan Soekarno bahwa pancasila adalah satu hogere optreking dari pada Deklartion of Independence (yang tidak membawa keadilan sosial bagi sosialisme) dan Manifesto Komunis (yang harus disublimir dengan Ketuhanan Yang Maha Esa) memunculkan acuan penting mengenai sosialisme yang bertaut dengan religiusitas di dalam praktik kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara. Humanisme religius adalah istilah yang muncul sebagai turunan. Yang dalam konteks Lesbumi, religiusitas menjadi tendensi, bukan hanya dalam ekspresi dan produksi seni budayanya, melainkan juga aktivis-aktivis yang menggerakkannya seperti yang dikemukakan oleh tiga tokohnya, Djamaluddin Malik, Usmar Ismail dan Asrul Sani.

Lesbumi dengan semboyan Humanisme religius­-nya juga memberikan alternatif baru dalam polemik dalam mementukan arah kebudayaan yang terjadi antara Lekra yang beraliran  realisme sosialis dan Manifes Kebudayaan yang beraliran humanisme universal. Lesbumi menolak jargon “politik adalah panglima” yang menjadi motor penggerak aktivitas Lekra, dan semboyan “seni untuk seni” (l’ art pour l’ art) yang menjadi elan vital Manifes Kebudayaan.

 Oleh karena itu, buku ini sangat menarik sebab memaparkan upaya NU mencari relasi antara agama, seni, dan politik hingga Lesbumi resmi dibentuk. Sebagai organisasi kebudayaan di bawah naungan NU, Lesbumi telah melakukan  kopromi politik dan agama dalam konteks “kemusliman” melalui pendefinisian kebudayaan “Islam”. Dalam konteks yang lebih luas, upaya ini merupakan wujud dari respon NU terhadap modernitas. Dari buku ini kita dapat melihat bahwa NU sebagai ormas tidak hanya berkecimpung dalam bidang sosial, politik, dan keagamaan, tetapi juga kebudayaan.

Lesbumi meski secara kelembagaan telah hilang namun, sebagai lembaga kesenian dan kebudayaan yang berada di bawah naungan NU, ia telah memberi sumbangan besar terhadap tumbuh dan berkembangnya kebudayaan Indonesia terkubur dalam ingatan yang terlupakan. Kehadiran buku ini sangat pantas untuk dibaca oleh berbagai kalangan terutama pengamat sejarah, politik, dan kebudayaan. Karena selama ini dalam perbincangan sejarah, politik, dan kebudayaan Lesbumi kurang disinggung kalau tidak mau dikatakan teracuhkan peranannya dalam pertumbuhan dan perkembangan sejarah seni dan kebudayaan Indonesia.

 


Blog EntryMay 30, '08 11:45 PM
for everyone

Menguak Kekejian Diktator Dunia

 

Judul Buku     : Tangan Besi: 100 Tiran Penguasa Dunia

Penulis            : Monsanto Luka

Penerbit          : Galangpress, Yogyakarta

Cetakan          : 1, 2008

Tebal               : 291 Halaman

Peresensi        : Iqro' Alfirdaus

 

Diktator berasal dari bahasa Latin, dictare, yang artinya berkata, bersabda. Oleh Jules Archer, diktator diartikan sebagai seorang penguasa yang mencari dan mendapatkan kekuasaan mutlak pemerintahan tanpa (biasanya) memperhatikan keinginan-keinginan nyata rakyatnya. Kekuasaan mutlak itu dapat diperolehnya baik dengan jalan sah (misalnya lewat pemilihan umum) ataupun tak-sah (misalnya kudeta). Dengan begitu, seorang diktator bukan melulu pribadi rusak, kejam, tak bermoral. Ada diktator yang taat agama. Ada pula yang bersahaja. Ada yang ilmuwan universitas.

Kemunculannya seringkali dengan memanfaatkan masa-masa ketidakpuasan dan pertentangan penduduk sipil. Bila telah mendapatkan dan mengurat-akarkan kekuasaannya, seorang diktator biasanya akan terang-terangan memakai teror untuk menyingkirkan usaha-usaha menggulingkannya. Selain cara itu, seorang diktator juga memakai “taktik pecah-belah dan lumpuhkan.” Akibatnya, gaya pemerintahannya adalah pemerintahan terpusat dan kuat yang memperlemah pemerintahan-pemerintahan lokal.

Popularitas adalah hal penting bagi seorang diktator. Sewajarnya bila ia sering meneriakkan perang pada negara lain atau mempengaruhi rakyat agar menentang kekuatan-kekuatan besar dunia. Dengan begitu, popularitasnya di mata rakyat naik, semua perhatian hanya tertuju pada musuh. Adapun dirinya dan kekuasaannya terlupakan oleh rakyat banyak yang sedang terbius. Mereka sebagai sebuah bangsa, telah dijadikan masyarakat yang tertutup. Hal ini dilakukan dengan pengendalian ketat surat kabar-surat kabar, radio, televisi, film, pemikiran-pemikiran, dan menggunakan semua itu untuk propaganda.

Bangsa yang terbiasa dengan penjajahan, seringkali menerima kediktatoran dengan masa bodoh. Bahkan sering seorang diktator dianggap sebagai pahlawan pada mulanya. Karena terbiasa taat dengan penindasan, mereka memilih bersikap bungkam sambil berharap pada pemerintah yang mengontrol hidup mereka. Mereka terima sebagai hal yang normal jika satu tokoh-kuat tetap pada kekuasaannya, sampai pada saat digulingkan lagi oleh sosok yang lebih kuat.

Para diktator yang sering digambarkan sebagai sosok yang tangannya berdarah-darah, memerintah dengan tangan besi, membunuh semua lawan politik dan musuh-musuhnya. Mereka melakukan apapun saja demi memcapai segala yang diinginkannya. Tidak memandang saudara, keluarga atau teman. Semuanya disingkirkan demi sebuah kekuasaan. Mereka memimpin negara dengan sangat keji. Kekerasan adalah jalan menuju kejayaan.

Pada bangsa Eropa, kediktatoran biasanya lahir dari rahim revolusi. Sedangkan pada negara-negara Amerika latin, kediktatoran biasanya muncul karena kudeta militer dan dukungan Yankee (baca;AS) untuk melindungi investasi Amerika di sana. Pada negara-negara bekas jajahan kolonial seperti Cina dan Indonesia, kediktatoran lebih disebabkan oleh sikap masa bodoh rakyat terhadap pemerintahan. Kediktatoran mengakibatkan penderitaan yang panjang bagi sebagian besar rakyatnya. Korban jiwa manusia akibat perang, pembunuhan politik, dan pembantaian massal menjadi bagian kelam sepak terjangnya.

Oleh karena itu, kehadiran buku ini adalah sumbangan besar bagi perkembangan pengetahuan di tanah air, khususnya sejarah  yang berhubungan dengan para diktator atau tiran yang terkenal dalam kepemerintahannya dengan tangan besi. Membaca buku ini, pembaca setidaknya mendapatkan, pertama, bagaimana kebengisan dan kekejian seorang diktator yang ada pada masa lampau hingga sekarang. Dan kedua, faktor-faktor yang menentukan bagi lahirnya kediktatoran antara lain: kemiskinan, depresi ekonomi dunia, perang, dan juga dukungan pihak luar.

Namun, yang perlu diketahui oleh pembaca bahwa buku ini hanya seperti sebuah klipingan dengan sampul yang meyakinkan seolah-olah menunjukkan bahwa isinya sangat menarik dan sesuai dengan apa yang terdapat pada sampulnya. Isi buku ini hanya sebagiaan saja yang secara detail menjelaskan tentang kediktatoran penguasa di dunia, selebihnya hanyalah sebuah informasi tentang nama sang diktator dan tempat di mana ia berkuasa.

Meskipun buku ini menjelaskan sedikit tentang 100 tokoh tiran di dunia dalam menjalankan kepemimpinannya yang dengan tanpa rasa kemanusiaan melakukan bermacam kejahatan dan pelanggaran terhadap HAM, baik dalam sektor politik dan perekonomian, tetapi sebenarnya buku ini mengajak kita untuk merenungkan apakah pada pemeritahan kita saat ini mengalami hal tersebut.

Penguasa diktator atau tiran tidak hanya hidup di masa lampau. Di zaman modern ini pun mereka masih bisa eksis. Demokrasi mereka kebiri. Roda kekuasaan fasistis justru lancar menggilas. Kekuasaan haus tumbal itu meraja di mana-mana. Buku ini membeberkan siapa saja penguasa dunia yang mencaplok negara dengan tangan besinya: totaliter dan bengis. Ada Adolf Hitler, Fidel Castro, Mao Tse-Tung, Augusto Pinochet, Benito Mussolini, Mabutu Sese Seko, Gengis Khan, Elizabeth Bathory, Saddam Husein, hingga Soekarno. Tidak tertinggal Soeharto mantan Orde Baru yang 27 Januari 2008 lalu tutup usia.

 


Blog EntryMay 30, '08 11:42 PM
for everyone

Belajar “Rasa Sejati lan Sejatining Rasa”

 

Judul Buku     : Ajaran Rahasia Orang Jawa

Penulis            : Capt. R.P. Suyono

Penerbit          : LKiS

Cetakan          : 1, Februari, 2008

Tebal               : V+122 Halaman

Peresensi        : Iqro' Alfirdaus

 

Ada pepatah yang mengatakan bahwa orang jawa nggone rasa. Artinya, hidup orang jawa berselimutkan rasa. Inilah salah satu indikasi bahwa orang jawa dalam segala sikap dan perilakunya rasa yang didahulukan. Rasa bisa dikatakan merupakan kulit danging. Maka, tidak salah kalau ada sebuah istilah raos rasa (rasa jawa). Yakni, suatu kesadaran hidup yang dilandasi oleh ke-jawa-an.

Orang yang hidupnya memelihara rasa, akan menanggung malu besar-besaran. Itulah sebabnya, olah rasa menjadi wajib dalam kehidupan Jawa. Seni olah rasa menjadi semacam ngelmu yang amat rahasia. Orang yang gagal mengolah rasa, hidupnya akan sia-sia. Karena orang tersebut menanggung beban rasa selama hidupnya.

Seni olah rasa yang sangat menggetarkan dalam praktik kehidupan kejawen adalah bawa rasa. Laku ini merupakan arena sakral untuk mengupas tentang rasa Jawa yang terdalam. Yang menjadi tonggak pembicaraan adalah adalah surasa, yakni rasa yang hebat. Rasa yang bernilai lebih, yakni rasa sejati dan sejatining rasa yang merupakan titik tolak ajaran kebijaksanaan orang Jawa.

Rasa sejati dan sejatining rasa adalah bangunan spiritual yang penuh makna. Orang yang tahu ini belum tentu mampu menghayati. Apabila hanya sekadar tahu kulitnya, atau bahkan salah memahami, hidupnya mungkin tak akan menggunakan rasa. Maka ada orang yang hidup yang sebenarnya tak hidup. Mereka hidup raga saja, rasa telah hilang. Mereka telah mati rasanya.

Dalam segala bentuk rasa akan berkibar. Rasa akan bercampur dengan keinginan, pikiran, dan hawa nafsu. Semua ini hampir sulit dipisahkan. Hanya bisa dibedakan ketika seluruh rasa itu lari dari rasa sejati dan sejatining rasa. Oleh karena itu, untuk memahami yang pelik ini perlu paham kejawen. Inti ajaran kejawen adalah puncak penghayatan mistik. Baik mistik maupun kejawen adalah dua hal yang tak terpisahkan dengan kebatinan Jawa.

Rasa sejati dan sejatining rasa tak dapat dikatakan. Kalau ada yang dapat menerangkan, itu hanya bersifat lahir. Sebab, rasa sejati dan sejatining rasa sebenarnya bersifat subjektif, tak terbatas. Mungkin hanya bisa dikatakan oleh seseorang yang benar-benar paham atas rasa. Rasa adalah amat rahasia. Ada pula yang menyebutnya rahsa. Antara keduanya sangat mirip. Keduanya amat halus, terkait sukma dan ruh. Pada saat rasa megalami kulminasi, baru sampai rasa sejati.

Dengan rasa sejati, orang Jawa dapat melakukan kontak langsung dengan kesetiaan rasa. Rasa sejati yang dapat menemukan sejatining rasa. Rasa sejati adalah kawasan batin dalam jagad emosi. Wilayah ini amat intuitif, yang menuntun rasa khadim, yang menuntun pribadi pada jenjang mistik tingkat tinggi. Tatanan ini realitas batin yang tenang menuju pada intinya.

Jika rasa sejati dan sejatining rasa telah diolah dengan halus akan memunculkan feelling. Yakni daya intuitif yang peka terhadap segala fenomena. Jika rasa mulur mungkret (membesar-mengecil) maka rasa sejati dan sejatining rasa tak kenal itu. Yang terakhir ini yang abadi, memomong rasa yang lain. Rasa lain yang amat kasar dibimbing oleh rasa sejati dan sejatining rasa menuju pada titik tertentu sesuai dengan nilai-nilai kemanusian dan ketuhanan. Karena rasa ini memadukan mikrokosmos dan makrokosmos hingga sampai pada tataran sukma sejati (ulmate of the soul).

Orang Jawa yang bisa memahami dan menghayati rasa sejati dan sejatining rasa akan menjadi man of ulmate truth, artinya manusia sejati. Dia itu sebagai jalma pinilih, istimewa atau sakti mandraguna. Karenanya, bukan tidak mungkin kalau dia akan tahu sadurunge winarah, maksudnya sebelum ada kejadian telah tahu apa yang mungkin terjadi. Dia  sebagai jalma limpat semprapat tamat, tahu sedikit saja telah paham hal-hal lain yang lebih luas. Dengan berbekal rasa sejati dan sejatining rasa itu, yang bertindak dalam hidup tak sekedar dirinya, melainkan ada hembusan suara Tuhan.

Oleh karena itu, buku yang berada di hadapan pembaca ini sangat menarik untuk dibaca karena menjelaskan berbagai fenomena dan cara berpikir orang jawa yang bertitik tolak dari rasa sejati dan sejatining rasa sebagaimana di atas, hingga pada keyakinan orang Jawa mengenai paraning dumadi, yaitu asal-muasal manusia dan hendak ke mana setelah kematiannya. Yang kemudian dari ajaran ini, lahir fenomena khas orang jawa yang disebut klenik atau ilmu kesaktian, yang sampai saat ini masih diyakini dan dijalankan orang Jawa.

Dengan bahasa yang sangat sederhana, pembaca akan sangat mudah untuk memahami buku ini. Selain itu, penulisnya sangat jelas membeberkan bagaimana orang Jawa menjalankan ilmu kerahasiannya (rasa sejati dan sejatining rasa) ini dalam kehidupan. Akhirnya, buku ini bukan menunjukkan bahwa orang Jawa lemah-lembut dan sakti mandraguna karena ajaran-ajarannya, sebab orang Jawa sama saja dengan manusia lain yang berada di dunia ini. Ia bisa lembut dan kasar, salah dan benar, serta sakti mandraguna. Yang benar hanya kehidupan itu sendiri. Namun, kita akan mengenal bahwa ajaran orang Jawa berangkat dari rasa sejati dan sejatining rasa yang lebih mendambakan cinta.

 

 

 


Blog EntryMay 30, '08 11:36 PM
for everyone

Sindo,suaramerdeka, surabaya post

ASAL-USUL ALAM PIKIRAN CINA

MEMBACA AKAR TRADISI FILSAFAT CINA

AKAR TRADISI ALAM PIKIRAN CINA

 

Judul Buku     : Sejarah Filsafat Cina

Penulis            : Fung Yu-Lan

Penerbit          : Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Cetakan          : 1, November 2007

Tebal               : V + 458  Halaman

Peresensi        : IQRO' ALFIRDAUS

 

Kedudukan filsafat dalam peradaban Cina bisa disamakan dengan kedudukan agama pada peradaban-peradaban lain. Di Cina, filsafat selalu menjadi perhatian bagi setiap orang yang berpendidikan. Pada masa lalu, jika seseorang merupakan orang yang berpendidikan, maka pendidikan pertama yang ia terima adalah filsafat. Ketika anak-anak masuk sekolah, maka Buku Yang Empat (The Four Book) adalah pegangan wajib, yang terdiri dari Untaian Ajaran Confucius (Confucius Analects), Buku Mencius (Book of  Mencius), Pelajaran Agung ( The Great Learning), dan Doktrin Jalan Tengah (The Doctrine of the Mean).

Dari tradisinya ini, filsafat Cina bertolak dari agama Confucianisme, Taoisme, dan Buddhisme. Sebagian orang mangatakan bahwa Confucianisme adalah agama, bukan filsafat. Tetapi sesungguhnya Confucianisme itu bukanlah agama, sama halnya dengan Platonisme atau Aristotelianisme. Memang, benar dalam Buku Yang Empat yang menjadi Bibel bagi orang Cina seakan-akan Confucianisme adalah agama. Tetapi di buku tersebut tidak terdapat kisah tentang penciptaan dan tidak menyebutkan tentang surga atau neraka.

Istilah filsafat dan agama keduanya bersifat ambigu. Tetapi bagi orang Cina filsafat dan agama adalah satu-kesatuan yang utuh, yang tak dapat dipisahkan karena kehidupan adalah perjalan reflektif. Orang Cina percaya dari alam semesta pikiran mampu melahirkan konsep tentang kehidupan, konsep tentang alam semesta, dan konsep tentang pengetahuan melalui pemikiran reflektif tersebut.

Agama juga mempunyai hubungan dengan kehidupan. Dalam inti setiap agama besar ada suatu filsafat, kenyataanya, setiap agama besar adalah suatu filsafat dengan superstruktur tertentu, yang terdiri dari tahayul-tahayul, dogma-dogma, ritual-ritual, dan institusi-institusi. Jika orang memahami agama sebagai pengertian ini, yang sesungguhnya tak berbeda dengan penggunaan secara umum, maka orang melihat bahwa Confucianisme tidak bisa dimengerti sebagai sebuah agama.

Tentang Taoisme, terdapat perbedaan Taoisme sebagai filsafat, yang disebut dengan Tao chia (mahzab Tao) dengan  Tao sebagai agama (Tao chiao). Ajarannya tidak hanya berbeda, tetapi bahkan kontradiktif. Taoisme sebagai filsafat mengajarkan doktrin agar manusia mengikuti alam, sedangkan Taoisme sebagai agama mengajarkan doktrin agar manusia menentang alam. Misalnya, menurut Lao Tzu dan Chuang Tzu, kehidupan yang diikuti oleh kematian adalah jalan alam, dan manusia harus mengikuti jalan alam ini dengan tenang. Tetapi ajaran utama Tao adalah prinsip dan teknik bagaimana cara menghindari kematian, yang jelas merupakan usaha menentang alam. Agama Tao memiliki jiwa ilmu pengetahuan, yang berusaha menaklukkan alam.

Ada juga perbedaan Buddhisme sebagai sebuah filsafat yang disebut Fo hsueh (Ajaran Budha) dan Buddhisme sebagai agama, yang disebut Fo chiao (agama Budha). Bagi orang Cina yang terpelajar, filsafat Budha lebih menarik daripada agama Budha. Sering sekali kita melihat rahib Budha dan rahib Tao sama-sama ikut serta dalam upacara kebaktian pemakaman Cina. Orang-orang bahkan memahami agama mereka sebagai kefilsafatan.

Menurut tradisi filsafat Cina, fungsi filsafat bukan untuk menambah pengetahuan positif (informasi yang sesuai dengan kenyataan), tetapi untuk meningkatkan taraf jiwa; suatu upaya untuk mencapai apa yang berada di luar dunia nyata saat ini, dan untuk mencapai nilai-nilai yang lebih tinggi daripada nilai-nilai moral.  Sehingga seorang peneliti filsafat, yakni Charles Morris pernah menyatakan bahwa filsafat Cina adalah filsafat dunia ini. Tetapi filsafat Cina tidak  dapat dipahami dari hal yang bersifat lahiriah saja. Sejauh yang terkait dengan ajaran utama tradisi filsafat Cina, jika kita memahaminya dengan benar, tentu tidak dapat dikatakan bersifat dunia ini, juga tidak dapat dikatakan sepenuhnya bersifat dunia lain. Filsafat Cina adalah kedua-duanya.

Dalam buku ini, Fung Yu-Lan sebagai penulisnya mengurai dengan jelas sejarah tradisi filsafat Cina klasik hingga tradisi filsafat Cina Modern. Ia memulai pembahasannya pada masa dinasti Cina pertama Hsia (2205-1766 SM) hingga dinasti Ch’ing (1644-1911 M) di mana filsafat Cina mengalami pertumbuhan dan perkembangannya, dalam persentuhannya dengan politik, ekonomi, dan budaya.

Buku ini merupakan kajian yang komprehensif atas filsafat Cina karena dengan membacanya kita akan melihat bahwa filsafat Cina itu jauh lebih luas cakupannya daripada sekedar Confucius atau Lao Tzu, atau bahkan sekedar madzhab Confucianisme atau Taoisme yang kepadanya kedua tokoh tersebut dipertalikan.

Selama kira-kira dua puluh lima abad, para pemikir Cina telah menyentuh hampir semua pokok bahasan utama yang menjadi perhatian para filsuf Barat, dan meskipun madzhab yang sudah menjadi bagian dari mereka sering melahirkan nama yang sama, hingga beberapa abad lamanya, namun isi ideologi aktual mereka sudah sangat berubah dari satu masa ke masa yang lain. Cina adalah sebuah negeri dengan rentetan sejarah filsafatnya yang amat panjang. Tak aneh jika teks agama, Islam misalnya, terdapat hadist, “carilah ilmu meski ke negeri Cina” itu karena pada hadist itu diturunkan bahkan jauh sebelumnya telah terjadi sebuah dialektika dan kemajuan yang mencengangkan di negeri tersebut.

 

 


ReviewReviewReviewMay 30, '08 4:11 AM
for everyone
Category:Other
lihatlah kawan


VideoMay 30, '08 4:01 AM
for everyone
Sen. Edward M. Kennedy is joined by students and fellow legislators to discuss plan to make higher education more affordable.



Download this and other original video files with Multiply Premium.

Photo Albummy_gaLeryMay 30, '08 3:32 AM
for everyone

i prefer like art picture than bikini or the others. alrihght?

LinkMay 30, '08 3:27 AM
for everyone
Link: http://www.eengfirdus.blogspot.com

Bergabunglah sekarang!!

Blog EntryMay 30, '08 3:25 AM
for everyone

Membangun Peradaban Dengan Kecerdasan Matematis

Judul Buku     : Ensiklopedi Matematika

Penulis            : Abdul Halim Fathani

Penerbit          : AR-RUZZ MEDIA

Cetakan          : 1, Mei 2008

Tebal               : 540  Halaman

Peresensi        : IQRO' ALFIRDAUS

            Sejak peradaban manusia bermula, matematika selalu memainkan perananan yang sangat vital dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan diakui atau tidak, matematika telah menjadi induk bagi terciptanya suatu peradaban. C. G. Darwin pernah menyatakan bahwa setiap penemuan baru adalah suatu bentuk matematika, oleh karena tidak ada pedoman yang kita milikli (Every new body of discovery is mathematical in form, because there is no guidance we can have ).

            Pada dasarnya, perkembangan matematika telah menjadi segala dasar dari segala penciptaan apa yang telah kia nikmati di zaman sekarang ini, dan bahkan di setiap pola kehidupan kita sebagai manusia. Betapapun primitifnya suatu kelompok manusia, matematika tetap merupakan bagian dari kebudayaan, meski dalam bentuk yang sederhana. Sehingga tidak berlebihan kiranya kalau kita mengatakan bahwa ”tanpa matematika, suatu masyarakat tidak mungkin akan berperadaban dan maju selangkah demi selangkah menuju pada kesempurnaan.

            Oleh arena itulah, kita dituntut untuk mempelajari dan mengetahui hakikat dan esensi matematika itu sendiri. Sebab dengan begitu, kita akan mempunyai sebuah kecerdasan logis yang baik, sehingga kita mampu berlaku rasional dalam menghadapi segala aspek kehidupan yang serba matematis ini.

            Namun ironisnya, tak jarang kita menemukan kebanyakan dari masyarakat saat ini yang bernggapan bahwa matematika merupakan sebuah momok yang harus di takuti, kalau bisa dibenci saat berada di bangku sekolah. Matematika dianggap sebagai hantu yang sangat menakutkan bagi anak-anak, bahkan orang dewasa sekalipun, meski tanpa sebuah alasan yang jelas.

            Begitu mendengar kata ” matematika” diucapkan, kening kebanyakan orang langsung berkerut. Di kepala mereka yang terbayang hanyalah angka-angka rumit yang susah dipecahkan, serta rumus-rumus yang susah dihafal dan dimengerti. Dan juga tak jarang matematika sering kali dipahami sebagai sesuatu yang mutlak, seolah-olah tak ada kemungkinan cara dan jawaban lain yang berbeda-beda. Murid-murid yang mempelajari matematika di sekolahpun menerima pelajaran matematika sebagai sesuatu yang mesti dan sedikitpun tak boleh salah. Pendeknya, baik di sekolah maupun di rumah, matematika menjadi beban yang menakutkan.

            Karena itulah mengapa masyarakat dan anak usia sekolah di negeri ini menjadi sangat kurang kemampuanya dalam bidang matematika. Dalam hasil penelitian Time programme of International Student Assessment (PISA) menunjukkan bahwa indonesia menempati peringkat ke-9 dari 41 negara pada kategori literatur matematika. Sementara itu, menurut penelitian Ternds in International Mathematics and Science Study (TIMMS) matematika Indonesia berada di peringkat ke-34 dari 38 negara.

            Padahal kalau ditilik lebih dalam lagi, berdasarkan pada penelitian yang juga dilakuakan oleh TIMMS menunjukkan bahwa jumlah pelajaran matematika di Indonesia jauh lebih banyak dibandingkan Malaysia dan Singapura. Dalam satu tahun, siswa kelas 8 di Indonesia rata-rata mendapat 169 jam pelajaran matematika. Sementara di Malaysia, hanya mendapat 120 jam dan di Singapura 112 jam.

            Namun, dalam kenyataannya prestasi Indonesia dalam bidang matematika masih berada jauh di bawah prestasi yang dicapai kedua negara tersebut. Prestasi matematika siswa Indonesia hanya mnembus sekor rata-rata 411. Sementara itu Malaysia mencapai 508 dan Singapura 605 (400 = rendah, 475 = menengah, 550 = tinggi, 625 = tingkat lanjut). Artinya, waktu yang dihabiskan siswa Indonesia tidak sebanding dengan prestasi yang telah diraih.

            Dari situ kemudian, dapat kita simpulkan bahwa dalam bidang ke-matamatika-an, Indonesia masih tertinggal jauh dari negara-negara maju lainnya. Begitu juga ketertinggalan-ketertinggalan dalam bidang yang lainnya pun akan senantiasa mengekor, sebab ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa (saya ulangi) apabila kita pintar matematika berarti kita mempunyai semacam kecerdasan logis yang baik, sehingga kita dapat berlaku rasional terhadap berbagai aspek kehidupan yang sedang kita hadapi saat ini. Dan bahkan ada yang mengatakan “apabila seorang pintar matematika, berarti ia adalah orang cerdas”. Sehingga tidak diragukan lagi bahwa matematika mempunyai peran yang sangat penting dalam menetukan langkah kita ke dapan demi tercapainya suatu “kesempurnaan”. Sebab itulah kita dituntut untuk mempelajari matematika secara lebih mendalam.

            Namun, yang menjadi pertanyaan kemudian adalah bagaimana kita bisa memahami hakikat dan esensi matematika itu sendiri, tentunya dalam sebuah masyarakat yang telah menganggap matematika sebagai suatu momok yang sangat mengerikan, dan bahkan telah dianggap sebagai beban?

            Sebagai langkah awal untuk mencintai dan memahami matematika, ada baiknya terlebih dahulu kita mengetahui dan mengenal sejarah kehidupan tokoh-tokoh matematika dalam menemukan dan mengotak-atik segala problem matemtika. Sebab dipungkiri atau tidak, matetika juga seperti aspek kehidupan manusia lainnya, memiliki sisi lain yang tak terpisahkan, yang tidak lain adalah sejarah itu sendiri.

            Maka dari itulah, buku yang berjudul “Ensiklopedi Matematika” ini menjadi sangat penting. Buku ini hadir sebagai tongkat bagi kita untuk kita bisa merancang masa depan kehidupan kita. Dengan memahami pola hidup dan proses pencarian para tokoh matematika, kita akan belajar untuk berkehidaupan dan mempertahankan diri dalam setiap tantangan kehidupan. Karena memang tidak bisa di pungkiri bahwa kehidupan kita adalah sebuah kehidupan yang serba matematis. Dengan kata lain, kita sekarang hidup atas dasar prinsip-prinsip matematis yang sangat membantu kita dalam berkehidupan dan berkebudayaan.

 


NoteGuestbook